Memberikan informasi tentang gejala penyakit dan tips kesehatan yang bermanfaat lainnya.

Penyakit Cacingan, Penyebab, Gejala dan Obatnya

Cacing adalah salah satu makhluk hidup yang bertubuh lunak yang termasuk ke dalam golongan invertebrata. Pada umumnya kita mengenal cacing adalah makhluk hidup yang hidup di tanah. Namun, tahukah kamu cacing juga dapat hidup pada makhluk hidup lainnya yang sifatnya dapat menjadi parasit dan sangat merugikan makhluk hidup yang ditumpanginya.

Setidaknya ada ratusan ribu spesies cacing yang hidup saat ini dan telah dikenal oleh peneliti, diantaranya ada cacing yang bermanfaat dan dapat dijadikan obat, namun adapula yang sifatnya parasit. Cacing yang tergolong parasit akan sangat berbahaya jika ia hidup pada tubuh inangnya yang akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Ketahui disini penyebab dan gejala cacingan pada anak-anak dan dewasa. Jenis-jenis cacing dan obat cacingan alami juga dibahas disini.

Salah satu tubuh inangnya adalah tubuh manusia. Namun, yang dapat hidup dan berkembang biak bukanlah dari jenis cacing tanah melainkan dari jenis cacing tertentu. Ketika orang dewasa maupun anak-anak yang terdapat cacing dalam dirinya (terinfeksi cacing), inilah yang disebut sebagai penyakit cacingan.

Jenis-Jenis Cacing Parasit Yang Dapat Hidup Pada Tubuh Manusia 

Berikut adalah cacing parasit yang dimadsud dan anda perlu waspada terhadap cacing jenis ini, terutama pada anak-anak si buah hati kesayangan. Simak secara seksama.
  • Cacing Gelang
Memiliki nama latin Ascaris Lumbricoides. Jika anda pernah mengkonsumsi mie, seperti itulah kurang lebih bentuk dari cacing gelang. Ia bahkan dapat tumbuh hingga dewasa dengan ukuran sepanjang 10 – 30 cm di dalam tubuh manusia dengan diameter maksimal dapat mencapai sebesar pensil dan dapat menelurkan sedikitnya 240.000 telur dalam semalam untuk cacing dewasa.

Apa yang terjadi jika cacing ini hidup di dalam tubuh manusia ? Dengan seukuran demikian pastilah kita mengetahui dampak buruknya bagi kesehatan yang akan sangat serius. Beberapa gejala umum dan khusus yang ditimbulkan antara lain : lesu, pucat, lemas, perut membuncit dan tidak nafsu makan, kekurangan gizi dikarenakan nutrisi makanan akan diserap si cacing dan apabila sudah dalam infeksi yang serius akan menimbulkan fases yang encer dan berlendert serta terkadang bercampur darah. 

Umumnya cacing ini akan menimpa anak-anak. Dengan cara mengkonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi telur cacing gelang ataupun bermain dilingkungan yang tidak sehat terbilang kotor. Selanjutnya akan memasuki usus dan menetas disana menjadi larva hingga menjadi anak cacing dan cacing dewasa. Perkembangannya pun cukup cepat, hanya dalam waktu 2 bulan ia mampu tumbuh dan berkembang biak serta menetaskan telur barunya.

  • Cacing Kremi
Memiliki nama latin Oxyuris Vermicularis. Ukuran cacing ini tergolong mini dengan ukuran panjang tubuh hanya mencapai 4 - 10 mm. Umumnya ia akan menyerang anak-anak dengan penularan dapat berasal dari makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, tidak hidup bersih seperti tidak mencuci tangan sebelum makan maupun bermain dilingkungan yang kotor.

Untuk mengetahui jika seorang anak terinfeksi cacing kremi cukuplah mudah dengan memperhatikan gejala apabila si anak merasakan gatal-gatal disekitar anus/dubur terutama pada malam hari. Pada fases yang dikeluarkan juga akan terdapat telur dan cacing kremi yang dapat terlihat oleh mata. 

  • Cacing Cambuk (Trichinella Spriralis)
Khususnya bagi anda yang menggemari sajian menu dari daging hewan dengan menyantapnya setengah matang perlulah berhati-hati yang berkemungkinan saat menyantap daging tersebut sudah terkontaminasi dengan larva cacing cambuk.

Cacing ini berukuran 1 - 2 mm yang memiliki ukuran sangat kecil dibandingkan dengan cacing parasit lainnya. Larva yang masuk melalui makanan yang kita konsumsi akan menuju masuk ke usus kecil kemudian menembus mukosa dan dapat tumbuh menjadi cacing dewasa hanya dalam waktu 6 – 8 hari saja, hingga berkembang biak disana dan bertelur kemudian menetas. 

Selanjutnya telur yang sudah menetas akan berpindah tempat mengikuti aliran darah dan jaringan tubuh manusia dan terakhir ia akan menempatkan dirinya pada sel otot rangka lurik. Wajar saja jika gejala umum yang tampak apabila sudah terinfeksi akan menimbulkan demam dan nyeri pada otot.

  • Cacing Tambang (Ankylostomiasis)
Kurang memperhatikan kebersihan terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi dan melalui kontak langsung dengan lingkungan yang tercemar, inilah yang menjadi penyebab cacing jenis ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Bahkan, cacing ini dapat menembus masuk melalui celah pori-pori yang terbuka lebar.

Lingkungan yang kurang bersih, kotor dan kumuh akan menjadi media terbaik bagi perkembangbiakan cacing tambang. Apalagi belum adanya sarana MCK yang terbilang baik ditambah udara yang lembab. 

Anak-anak lebih rentan terkena cacing ini dikarenakan lapisan kulit si anak masih tergolong tipis. Untuk itu memperhatikan kondisi kebersihan si anak saat hendak makan mencuci tangan terlebih dahulu, begitu juga saat ia bermain dilingkungan luar. Namun, janganlah terlalu over protektif kepadanya.

Cacing parasit ini dapat tumbuh dan hidup pada usus manusia dengan ukuran yang dapat mencapai 8 - 15 mm. Dalam hidupnya, ia akan menggigit dinding usus hingga pendarahan dan meracuni usus. 

Gejala cacingan yang tampak pada tubuh adalah penderita akan merasakan mual dan ingin muntah, lemas, cepat lelah da berwajah pucat, sakit kepala, sering merasakan telinga berdengung dan merasakan sesak nafas.

Gejala khusus yang ditimbulkan munculnya ruam pada daerah tempat masuknya telur atau larva yang terasa gatal, demam, batuk disertai nafas mengi karena larva berpindah ke paru-paru, pembengkakan jaringan yang luas, anemia dan nyeri perut bagian atas.

  • Cacing Pita (Taeniasis)
Dinamakan cacing pita, secara bentuk cacing ini memang menyerupai pita. Ia memiliki tubuh yang beruas banyak yang berfungsi untuk mengeluarkan telur hingga mencapai ratusan telur dan dapat hidup berkembang biak pada tubuh manusia, hewan maupun binatang ternak terutama sapi dan babi serta tak terkecuali pada ikan.

Selama ini dari kasus yang ditemukan, infeksi cacing pita yang terjadi pada tubuh manusia memiliki 2 jenis yaitu cacing pita sapi dan cacing pita babi. Kedua jenis cacing ini akan masuk ke dalam tubuh manusia manakala manusia memakan daging sapi dan babi tidak dikelola dengan baik seperti mengkonsumsinya setengah matang. 

Hal yang mengejutkan cacing ini dapat tumbuh yang panjangnya dapat mencapai 8 meter dan dapat bertahan hidup pada tubuh inangnya selama 25 tahun. 

Apa yang terjadi ya jika cacing ini hidup pada tubuh manusia ? Gejala yang ditimbulkan jika sudah terinfeksi adalah merasa mual dan perut akan mulas, perut akan merasakan perih seperti ditusuk-tusuk namun ketika makan perih ini akan hilang, bertubuh kurus, fases berlendir dan berwajah pucat.

Penyebab dan Gejala

Penyebab cacingan paling utama adalah kondisi lingkungan sekitar yang kurang bersih dan tak terawat apalagi terlihat kumuh. Dengan kondisi lingkungan tersebut, anak-anak akan rentan terkena infeksi cacing apabila ia bermain pada lumpur kemudian menyentuh apa saja yang kotor dan terkadang si anak terkadang memasukan jari tangannya yang kotor tanpa cuci tangan.

Namun, bukan itu saja yang menjadi penyebab dari penyakit cacingan. Beberapa diantaranya sebagai berikut :
  1. Lingkungan yang kotor dan tidak memelihara kebersihan sekitar.
  2. Kebersihan sarana BAB tidak terawat misalnya berkerak, berbau dan sebagainya yang berkemungkinan telur cacing dan dari jenis cacing tertentu bertempat disitu.
  3. Tidak menggunakan alas kaki, cobalah kita perhatikan disaat menginjak tanah berlumpur atau kumuh, gunakan alas kaki atau sepatu boot.
  4. Melalui makanan dan minuman yang tercemar, saatnya memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut. Olahlah makanan yang akan disantap dengan sebaik mungkin, misalnya dengan mencuci bersih. Kemudian jika akan jajan makanan diluar, perhatikan tempat, olahan makanan dan sebagainya. 
Untuk mengetahui gejala cacingan pada anak-anak dan orang dewasa, sudah kami paparkan sedikit pada artikel ini ditiap jenis-jenis cacing yang menginfeksi. Setiap cacing yang parasit dalam tubuh manusia, ia memiliki gejala khusus seperti yang sudah dipaparkan. 
Untuk mengetahui gejala cacingan secara umum, berikut ulasannya :
  • Terlihat pucat lemas dan merasa ngantuk seperti gejala anemia.
  • Berat badan mengalami penurunan dan jauh dari berat badan ideal.
  • Memiliki perut yang buncit walaupun berbadan kurus.
  • Jika sudah dalam kondisi serius, penderita akan merasakan mual, batuk-batuk tak kunjung sembuh dan mengalami sakit perut seperti tertusuk-tusuk jika perut dalam keadaan kosong.

Penanganan dan Pengobatan

Jika sudah menunjukkan beberapa gejala cacingan pada anak-anak dan orang dewasa seperti yang sudah disampaikan, bersegeralah mengambil sebuah tindakan agar cacing parasit tersebut tidak berkembang biak terlalu jauh dalam tubuh penderita.

Salah satu langkah untuk mengantisipasi cacingan dan pengobatannya adalah dengan meminum obat cacing yang dapat dibeli pada apotek terdekat seperti obat Combantrin, Vermox, Konvermex, Piperazin dan sebagainya. Namun, perhatikan dosis dan penggunaannya jika mengkonsumsi obat ini.

Disamping itu, obat tradisional mengatasi cacingan untuk anak-anak dan dewasa juga dapat diperoleh dari bahan alami yang mudah didapat seperti ramuan berikut ini :
  1. Wortel dan kelapa : Siapkan saja 1/4 kelapa agak tua dan 1 buah wortel segar. Parut keduanya dan tambahkan 1 gelas air. Peras dan ambil sarinya. Minum air perasan tersebut sebelum tidur, lakukan cara ini hingga 2 minggu lamanya.
  2. Kulit mangga : Ketika kita akan memakan mangga, jangan buang kulitnya yang ampuh membasmi cacing parasit dalam tubuh. Caranya ambil kulit mangga dari 1 buah mangga segar masak. Rebus dengan 2 gelas air hingga mendidih. Setelah dingin, minum air rebusan tersebut sebelum tidur selama 2 minggu lamanya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on Whatapps
Share on BBM
Share on Line
Share on Gmail

Related : Penyakit Cacingan, Penyebab, Gejala dan Obatnya

0 komentar: